Berdiri pada lahan seluas 144 m2, rumah ini menerpkan perbedaan dengan
ketinggian lantai atau biasa disebut konsep split
level untuk menyiasati kontur pada lahan. Perbedaan lantai tersebut sekaligus menjadi unsur pembentuk dan pembeda ruang sehingga secara persepsi visual, terasa ada perbedaan ruang meskipun layout ruangan secara umum dibuat serba terbuka. Hasilnya, suasana bagian dalam rumah terasa dinamis dengan adanya permainan perbedaan ketinggian lantai tersebut.

Masuk dari pintu utama, ruang tamu masih memiliki level yang sama dengan teras. Penurunan level terlihat pada area ruang kerja dan studio gambar yang ditempatkan tanpa sekat dengan ruang tamu.Suasana terasa lega pada bagian tengah rumah ini, dan hal tersebut diperkuat oleh view yang dominan menuju area taman bagian luar rumah, kolam ikan, serta innercourt dalam. Bukaan yang dominan pada pembatas antara ruang kerja dan taman dalam adalah upaya menghadirkan suasana outdoor yang alami ke dalam ruangan yang digunakan untuk aktvitas kerja tersebut.

Dari segi fasad, perbedaan ketinggian tersebut terlihat pada komposisi jendela serta ketinggian teritisan atap yang tidak segaris. Pada area entrance, dinding yang dibuat masif dan menonjol dengan finishing batu alam yang terkesan berat menjadi orientasi posisi pntu masuk. Sementara itu, ukuran bukaan yang signifikan di sebelah kiri bidang tersebut menciptakan efek kontras sekaligus menghasilkan komposisi yang menarik pada fasad rumah tinggal ini. Elemen tangga luar yang menghubungkan jalan dengan pintu masuk menciptakan sekuen yang atraktif pada area luar ini.
Pada lantai dua, ruang makan yang sekaligus berfungsi sebagai ruang meeting ditempatkan pada posisi dengan view yang leluasa dari dua sisi bidang. Ruang dapur ditempatkan di sebelahnya untuk kemudahan aktivitas karena keduanya saling berhubungan. Karena potensi view yang menarik, ruang tidur utama ditempatkan pada lantai dua ini.



0 komentar:
Posting Komentar